Blokade Selat Hormuz dan Dampaknya bagi Ekonomi Global

Blokade Selat Hormuz dan Dampaknya bagi Ekonomi Global, Foto: CNA
infoluar,

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memicu kekhawatiran global setelah muncul laporan gangguan pelayaran di Selat Hormuz.

Jalur laut strategis ini menjadi urat nadi perdagangan energi dunia, sehingga setiap ancaman penutupan berpotensi mendorong lonjakan harga minyak dan mengguncang stabilitas ekonomi internasional.

Selat Hormuz dan Perannya dalam Perdagangan Energi

Selat Hormuz merupakan jalur sempit di pintu masuk Teluk Persia yang menghubungkan kawasan tersebut dengan Samudra Hindia.

Dikutip dari CNA, Sekitar seperempat perdagangan minyak dunia melalui laut melintasi perairan ini. Pada 2025, kapal tanker mengangkut sekitar 16,7 juta barel minyak mentah dan kondensat per hari melalui jalur ini, berdasarkan data pelacakan yang dikumpulkan Bloomberg.

Selain minyak, hampir seperlima pasokan LNG global—sebagian besar dari Qatar—juga melewati selat tersebut. Negara-negara seperti Arab Saudi, Irak, Kuwait, Uni Emirat Arab (UEA), dan Iran mengandalkan jalur ini untuk mengirimkan energi ke pasar utama, terutama Asia.

Dampak Ketegangan Iran dan Ancaman Blokade

Setelah serangan dari Amerika Serikat dan Israel, Iran disebut-sebut mempertimbangkan opsi tekanan terhadap ketegangan Iran-AS dengan membatasi akses di Selat Hormuz.

Media semi-resmi Iran bahkan menggambarkan selat itu seolah-olah ditutup secara efektif, sementara sejumlah kapal melaporkan siaran radio yang mengatasnamakan angkatan laut Iran dan melarang transit.

Jika gangguan berlangsung lama, dampaknya bisa signifikan. Harga minyak sempat mencapai level tertinggi dalam tujuh bulan pada Februari di tengah spekulasi bahwa Presiden AS Donald Trump akan memerintahkan serangan militer terhadap Iran.

Analis senior Kpler Ltd., Muyu Xu, memperkirakan bahwa penutupan selat selama satu hari saja dapat mendorong harga minyak melonjak ke kisaran US$120 hingga US$150 per barel. Sebagai perbandingan, rata-rata harga minyak Brent pada 2026 sebelum serangan udara 28 Februari berada di sekitar US$67 per barel.

Kerentanan Jalur Pelayaran

Secara geografis, Selat Hormuz memiliki panjang lebih dari 160 kilometer dan lebar sekitar 34 kilometer di titik tersempitnya, dengan jalur pelayaran masing-masing hanya selebar dua mil. Kedangkalan perairan membuat kapal rentan terhadap ranjau laut, sementara kedekatannya dengan daratan Iran membuka kemungkinan ancaman rudal atau intersepsi kapal patroli.

Dalam konteks hukum internasional, berdasarkan Konvensi PBB tentang Hukum Laut, negara pantai wajib mengizinkan lintas damai. Namun, meskipun Iran menandatangani perjanjian tersebut pada 1982, perjanjian itu belum diratifikasi oleh parlemen Iran.

Opsi Alternatif Negara Teluk

Beberapa negara memiliki jalur alternatif terbatas. Arab Saudi dapat mengalihkan sebagian ekspor melalui Pipa Timur-Barat menuju Laut Merah dengan kapasitas hingga 5 juta barel per hari. UEA juga memiliki pipa Habshan-Fujairah yang mampu memindahkan sekitar 1,5 juta barel per hari.

Namun, negara seperti Kuwait, Qatar, dan Bahrain praktis tidak memiliki alternatif selain melewati Hormuz. Iran sendiri juga bergantung pada selat tersebut untuk ekspor minyaknya, sehingga penutupan penuh akan berdampak langsung pada perekonomian domestiknya.

Respons Amerika Serikat dan Sekutu

Dalam sejarahnya, ancaman terhadap jalur ini pernah memicu keterlibatan militer besar, seperti saat Perang Tanker pada era konflik Iran-Irak 1980–1988. Pada 2019, koalisi pimpinan AS membentuk International Maritime Security Construct guna melindungi jalur laut penting di kawasan Timur Tengah.

Dalam ketegangan terbaru, kapal-kapal dilaporkan meningkatkan kecepatan saat melintasi selat untuk meminimalkan risiko. AS juga menyarankan kapal berbendera Amerika untuk menjauh dari perairan Iran.

Pada awal Februari, Komando Pusat AS melaporkan bahwa pesawat tempur F-35C menembak jatuh drone Iran yang mendekati kapal induk USS Abraham Lincoln dengan “niat yang tidak jelas”.

Penutupan total Selat Hormuz selama lebih dari beberapa hari dipandang sebagai skenario terburuk bagi pasar energi global. Selain memicu krisis pasokan, langkah tersebut berisiko memperuncing konflik dengan mitra dagang utama seperti Tiongkok, pembeli terbesar minyak Iran.

Belum ada komentar