Pangkalan Militer Irak Dibom, Ketegangan dengan AS Makin Memanas

Pangkalan Militer Irak Dibom, Ketegangan dengan AS Makin Memanas
Anggota Pasukan Mobilisasi Populer Irak. Foto: Al Jazeera
infoluar,

Serangan udara yang menghantam pangkalan militer di Provinsi Anbar, Irak barat, menewaskan sedikitnya tujuh pejuang dan melukai 13 lainnya.

Mengutip laporan Al Jazeera, Kementerian Pertahanan Irak menyatakan bahwa serangan yang terjadi pada Rabu tersebut menargetkan fasilitas klinik kesehatan militer di pangkalan Habbaniyah.

Pemerintah Irak mengecam keras insiden tersebut dan menyebutnya sebagai “kejahatan keji” yang melanggar hukum serta norma internasional.

Sumber kepolisian Irak kepada Al Jazeera mengungkapkan bahwa serangan itu menyasar posisi Pasukan Mobilisasi Populer (PMF), kelompok paramiliter yang memiliki sejumlah brigade bersekutu dengan Iran dan diketahui berbagi lokasi dengan militer reguler Irak.

PMF pun mengutuk serangan tersebut sebagai “agresi terang-terangan” yang dianggap sebagai pelanggaran serius terhadap kedaulatan Irak.

“Kami menyerukan seluruh rakyat Irak untuk bersatu dalam masa kritis ini dan mendukung lembaga negara serta pasukan keamanan,” demikian pernyataan resmi PMF.

Menurut laporan jurnalis Al Jazeera, Assed Baig, serangan ini menjadi salah satu yang pertama kali menargetkan PMF secara bersamaan dengan militer Irak dalam satu lokasi.

Ia menyebutkan bahwa serangan udara terjadi dalam dua tahap, yakni serangan awal yang kemudian diikuti dengan serangan lanjutan di titik yang sama.

Menanggapi insiden tersebut, Perdana Menteri Irak Mohammed Shia al-Sudani memerintahkan Kementerian Luar Negeri untuk memanggil kuasa usaha Amerika Serikat di Baghdad.

Pemerintah Irak juga berencana mengajukan pengaduan resmi ke Dewan Keamanan PBB serta lembaga internasional lainnya, karena khawatir insiden ini dapat memperburuk hubungan antara Irak dan Amerika Serikat.

Seorang pejabat keamanan yang dikutip kantor berita AFP menyebut bahwa pangkalan yang sama juga diserang sehari sebelumnya.

Serangan pada Selasa itu, yang dituding dilakukan oleh Amerika Serikat, menewaskan 15 pejuang termasuk seorang komandan, dan disebut sebagai salah satu yang paling mematikan sejak konflik melawan Iran meningkat pada 28 Februari.

Pemerintah Irak bahkan telah memberikan “hak untuk membalas” kepada PMF atas serangan yang menargetkan kelompok tersebut.

Ketegangan di kawasan terus meningkat sejak pecahnya konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Kelompok bersenjata pro-Iran dilaporkan telah melakukan serangan terhadap kepentingan AS di Irak dan wilayah sekitarnya.

Di sisi lain, Departemen Pertahanan AS mengakui telah melakukan serangan udara menggunakan helikopter tempur terhadap kelompok bersenjata pro-Iran di Irak.

Jurnalis Al Jazeera, Assed Baig, menilai eskalasi terbaru ini menunjukkan Irak semakin berpotensi menjadi medan konflik terbuka.

“Semakin hari, Irak kian menjadi medan pertempuran antara faksi bersenjata dan Amerika Serikat,” ujarnya.

Belum ada komentar