Paus Leo XIV menandai satu tahun masa kepemimpinannya sebagai pemimpin Gereja Katolik di tengah hubungan yang memanas dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Mengutip dari Associated Press, Paus Leo XIV menghabiskan momen peringatan satu tahun terpilihnya sebagai paus dengan mengunjungi Napoli, Italia, untuk berdoa di tempat suci yang didedikasikan bagi Madonna.
Dalam beberapa bulan terakhir, hubungan antara Vatikan dan pemerintahan Trump menjadi sorotan setelah keduanya saling melontarkan kritik terkait perang Iran dan isu perdamaian dunia.
Ketegangan tersebut bahkan mendorong Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio melakukan kunjungan ke Vatikan dalam upaya memperbaiki hubungan kedua pihak.
Meski demikian, Vatikan dan Departemen Luar Negeri AS sama-sama menegaskan bahwa hubungan bilateral keduanya tetap kuat.
Paus Leo XIV juga sempat menanggapi kritik Trump terhadap dirinya.
“Jika seseorang ingin mengkritik saya karena memberitakan Injil, lakukanlah dengan kebenaran,” ujar Paus Leo XIV.
Laporan AP menyebut, sikap tersebut dinilai berbeda dari karakter Paus Leo XIV yang selama ini dikenal tenang dan lebih fokus pada pendekatan pastoral.
Paus yang sebelumnya bernama Robert Prevost itu disebut lebih memilih menekankan persatuan, harmoni, dan penyebaran ajaran Injil dibanding konfrontasi politik.
Selama tahun pertamanya memimpin Gereja Katolik, Leo XIV disebut berupaya meredakan perpecahan di internal gereja maupun dunia internasional.
Ia juga menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari perbedaan pandangan antara kelompok konservatif dan progresif dalam gereja, persoalan keuangan Vatikan, hingga isu geopolitik global.
Kardinal Wilton Gregory mengatakan bahwa salah satu tantangan utama Paus Leo XIV adalah memperkuat persatuan gereja di tengah meningkatnya polarisasi.
“Saya pikir tantangan yang dimiliki Bapa Suci adalah memperkuat persatuan gereja,” kata Gregory.
Ia juga menilai media sosial turut memperbesar perpecahan yang terjadi.
“Komunikasi sosial memungkinkan orang untuk berpihak, dan terkadang keberpihakan itu menambah perpecahan yang harus kita hadapi dan yang harus ditanggapi oleh Bapa Suci sebagai Uskup Roma,” ujarnya.
Dalam kunjungannya ke Afrika beberapa waktu lalu, Paus Leo XIV sempat menegaskan bahwa dirinya tidak tertarik terlibat dalam perdebatan politik dengan Trump.
“Sama sekali bukan kepentingan saya,” katanya mengenai polemik tersebut.
Ia menegaskan bahwa tujuan utamanya adalah menjalankan peran sebagai pemimpin Gereja Katolik dan mendampingi umat.
“Saya datang ke Afrika terutama sebagai seorang pastor, sebagai kepala Gereja Katolik untuk bersama, merayakan, memberi semangat, dan mendampingi seluruh umat Katolik di Afrika,” ujarnya.
Sejumlah pengamat menilai kehadiran Paus Leo XIV sebagai paus pertama asal Amerika Serikat membawa pengaruh besar, terutama di kalangan umat Katolik di AS dan Eropa.
Kerry Alys Robinson dari Catholic Charities USA menyebut Paus Leo XIV tidak bisa dianggap tidak memahami kondisi di Amerika Serikat karena dirinya berasal dari negara tersebut.
Sementara itu, Presiden The Papal Foundation, Ward Fitzgerald, mengatakan penggunaan bahasa Inggris oleh Paus Leo XIV membantu pesan gereja lebih mudah dipahami, khususnya oleh generasi muda.
“Saya pikir ada banyak alasan untuk itu, tetapi saya yakin memiliki seorang paus yang berbicara bahasa Inggris membantu anak muda memahami pesan Bapa Suci,” katanya.

Belum ada komentar