Serangan di Sekolah Iran Tewaskan Ratusan Anak, Pentagon Lakukan Investigasi

Warga dan pasukan penyelamat bekerja setelah dilaporkan terjadi serangan terhadap sebuah sekolah di Minab, Iran. Foto: reuters
infoluar,

Serangan mematikan di sebuah sekolah dasar di selatan Iran, yang menewaskan lebih dari 170 orang, sebagian besar anak-anak, memicu kemarahan global dan dorongan agar pemerintah Amerika Serikat melakukan investigasi menyeluruh.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memberikan pernyataan yang kontradiktif sepanjang pekan terakhir terkait insiden tersebut. Awalnya, Trump menuding Iran sebagai pihak yang bertanggung jawab, namun belakangan ia mengaku tidak mengetahui detail serangan itu.

Investigasi Pentagon Temukan Keterlibatan Militer AS

Laporan The New York Times pada Rabu menyebutkan, investigasi awal Departemen Pertahanan AS mengindikasikan bahwa serangan tersebut dilakukan oleh militer Amerika. Saat ditanya apakah ia bertanggung jawab atas insiden itu, Trump kembali menjawab, “Saya tidak tahu tentang hal itu.”

Beberapa hari sebelumnya, Trump bersikeras bahwa serangan itu dilakukan oleh Iran sendiri di kota Minab, Iran selatan. “Berdasarkan apa yang saya lihat, itu dilakukan oleh Iran. Mereka sangat tidak akurat dengan amunisi mereka,” kata Trump pada Sabtu lalu, di hadapan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth, yang memilih tidak mengomentari tuduhan tersebut dan menekankan bahwa Pentagon masih menyelidiki insiden itu.

Dampak Sipil dalam Konflik AS-Israel dengan Iran

Serangan pada 28 Februari ini menjadi simbol besarnya korban sipil dalam perang antara AS dan Israel terhadap Iran. Menurut pejabat Iran, sedikitnya 1.300 orang tewas akibat serangan tersebut. Setelah rekaman baru muncul, sejumlah media dan investigasi independen menyimpulkan bahwa serangan dilancarkan menggunakan rudal Tomahawk, senjata milik Amerika yang tidak dimiliki Iran maupun Israel.

Trump mengklaim bahwa Iran “juga memiliki beberapa Tomahawk,” pernyataan yang dibantah oleh para ahli militer karena Iran berada di bawah sanksi ketat AS dan tidak dapat membeli senjata dari Amerika. Presiden AS menambahkan, “Banyak negara memiliki Tomahawk. Apapun hasil investigasinya, saya siap menerima.”

Konfirmasi Penggunaan Tomahawk dalam Serangan Awal

Militer AS telah mengonfirmasi penggunaan rudal Tomahawk dalam serangan awal terhadap Iran pada 28 Februari. Peta Pentagon yang dirilis pekan lalu menandai Minab sebagai salah satu lokasi serangan awal. Senator Republik John Kennedy, yang merupakan sekutu Trump, menyatakan bahwa AS berada di balik serangan tersebut, namun menekankan bahwa insiden itu tidak disengaja. “Ini adalah kesalahan yang sangat buruk. Anak-anak itu tetap tewas,” ujar Kennedy kepada CNN, tanpa merinci sumber penilaiannya.

Desakan Kongres untuk Transparansi dan Akuntabilitas

Rabu lalu, hampir seluruh anggota Demokrat di Senat mengirim surat kepada Hegseth meminta penjelasan terkait serangan di Minab. Mereka meminta rincian mengenai langkah mitigasi dampak terhadap sipil dan penggunaan kecerdasan buatan dalam pemilihan target.

Surat tersebut menegaskan bahwa, “Perang terhadap Iran adalah perang pilihan tanpa otorisasi Kongres. Namun, aksi militer ini harus tetap mematuhi hukum nasional dan internasional, termasuk hukum konflik bersenjata. Harus ada investigasi cepat terhadap serangan di sekolah ini dan tindakan militer lain yang menimbulkan korban sipil, dan hasilnya harus dipublikasikan beserta langkah akuntabilitas yang diambil.”

Isu ini menyoroti pentingnya transparansi dan pertanggungjawaban dalam operasi militer, sekaligus memunculkan pertanyaan kritis tentang perlindungan warga sipil di tengah konflik bersenjata.

Belum ada komentar