Badan antariksa Amerika Serikat, NASA, mengumumkan pembatalan rencana pembangunan stasiun luar angkasa di orbit Bulan. Sebagai gantinya, NASA akan menggunakan komponen proyek tersebut untuk membangun pangkalan di permukaan Bulan dengan nilai mencapai 20 miliar dolar AS.
Selain itu, NASA juga merencanakan pengiriman pesawat luar angkasa bertenaga nuklir ke Mars sebagai bagian dari pengembangan eksplorasi luar angkasa jangka panjang.
Dikutip dari Reuters, Kepala NASA Jared Isaacman, yang ditunjuk Presiden Donald Trump dan mulai menjabat pada Desember lalu, menyampaikan perubahan besar dalam program Artemis. Langkah ini bertujuan memperluas jejak manusia di luar angkasa, terutama saat Amerika Serikat berlomba dengan China yang menargetkan pendaratan astronaut di Bulan sekitar tahun 2030.
Rencana pembangunan pangkalan di Bulan mencakup pengiriman lebih banyak wahana robotik, pengoperasian armada drone, serta pengembangan teknologi tenaga nuklir di permukaan Bulan dalam beberapa tahun ke depan.
“Pendekatan bertahap ini memungkinkan kami belajar, mengurangi risiko, dan membangun kepercayaan diri, seperti yang dilakukan NASA pada era 1960-an dalam program Apollo,” ujar Isaacman.
Misi Mars Bertenaga Nuklir
NASA juga mengungkap rencana peluncuran pesawat luar angkasa bernama Space Reactor 1 Freedom ke Mars sebelum akhir 2028. Misi ini bertujuan menguji teknologi propulsi listrik berbasis nuklir di ruang angkasa.
Teknologi tersebut dinilai sebagai langkah besar dalam membawa energi nuklir dari tahap laboratorium menuju implementasi nyata di luar angkasa. Setelah mencapai Mars, pesawat ini direncanakan akan mengerahkan helikopter untuk eksplorasi permukaan planet tersebut.
Stasiun Lunar Gateway, yang sebelumnya dirancang sebagai stasiun orbit Bulan, kini dihentikan dalam bentuk awalnya. Proyek ini sebelumnya melibatkan kontraktor seperti Northrop Grumman dan Lanteris Space Systems.
Isaacman menjelaskan bahwa fokus kini dialihkan pada pembangunan infrastruktur yang mendukung operasi jangka panjang di permukaan Bulan.
Perubahan ini juga menimbulkan ketidakpastian bagi mitra internasional seperti Jepang, Kanada, dan Badan Antariksa Eropa (ESA) yang sebelumnya terlibat dalam proyek tersebut.
Kepala ESA, Josef Aschbacher, menyatakan akan mempelajari rencana baru tersebut dan melanjutkan diskusi dengan NASA.
Sebelumnya, Lunar Gateway dirancang sebagai platform penelitian sekaligus titik transit bagi astronaut sebelum mendarat di Bulan. Dalam rencana terbaru, NASA menargetkan pendaratan manusia di Bulan pada 2028.
Perubahan besar dalam program Artemis turut memengaruhi kontrak bernilai miliaran dolar dan memaksa perusahaan mitra untuk menyesuaikan diri dengan percepatan target Amerika Serikat.
Program pendaratan astronaut menjadi salah satu fokus utama, dengan dua perusahaan besar, SpaceX milik Elon Musk dan Blue Origin milik Jeff Bezos, bersaing mengembangkan wahana pendarat Bulan.
Namun, kedua perusahaan tersebut dilaporkan mengalami keterlambatan dari jadwal yang telah ditetapkan, dengan target pendaratan berawak pada 2028.
NASA menyatakan akan menggunakan wahana pendarat yang paling siap terlebih dahulu, tanpa terikat urutan misi sebelumnya.
Program Artemis sendiri diluncurkan pada 2017 dan menjadi kelanjutan dari program Apollo yang terakhir kali membawa manusia ke Bulan pada 1972.

Belum ada komentar