Negosiasi Nuklir Iran Jadi Penentu, Trump Bisa Luncurkan Serangan Udara Besar

Negosiasi Nuklir Iran Jadi Penentu, Trump Bisa Luncurkan Serangan Udara Besar
Negosiasi Nuklir Iran Jadi Penentu, Trump Bisa Luncurkan Serangan Udara Besar, Foto: Istimewa/BBC
infoluar,

Keputusan Presiden Donald Trump untuk memerintahkan serangan udara ke Iran akan bergantung sebagian pada penilaian utusan khususnya, Steve Witkoff dan Jared Kushner, mengenai apakah Tehran menunda kesepakatan untuk melepaskan kemampuan nuklirnya, dikutip dari The Guardian.

Sampai saat ini, Trump belum mengambil keputusan final terkait serangan. Pemerintahan AS tengah bersiap menyambut proposal terbaru Iran yang dijadwalkan tiba minggu ini, menjelang putaran terakhir negosiasi yang dijadwalkan Kamis di Jenewa.

Utusan Khusus Jadi Penentu Langkah Militer

Witkoff dan Kushner akan memimpin negosiasi, dan penilaian mereka mengenai kemungkinan tercapainya kesepakatan akan memengaruhi kalkulasi Trump. Jika tidak ada kesepakatan, Trump telah memberi tahu penasihatnya bahwa ia mempertimbangkan serangan terbatas untuk menekan Iran, dan jika gagal, kemungkinan serangan lebih besar untuk memaksa perubahan rezim.

Sumber resmi menyebut bahwa Witkoff terlibat dalam semua pertemuan yang membahas opsi militer terhadap Iran. Trump juga telah menerima berbagai briefing militer, termasuk sesi terbaru di White House Situation Room, dan mengumpulkan pandangan dari pejabat West Wing tentang langkah yang tepat.

Konsultasi dengan Pejabat Tinggi

Penasihat utama lain termasuk Wakil Presiden JD Vance, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Direktur CIA John Ratcliffe, Menteri Pertahanan Pete Hegseth, Ketua Staf Gabungan Gen Dan Caine, Kepala Staf Gedung Putih Susie Wiles, serta Direktur Intelijen Nasional Tulsi Gabbard.

Vance telah menyampaikan argumen pro dan kontra serangan udara, sementara Caine menekankan risiko terbatasnya sistem pertahanan anti-rudal. Setelah serangan tahun lalu terhadap situs pengayaan nuklir Iran, AS menggunakan 30 rudal Patriot, jumlah terbesar dalam sejarah penggunaan rudal tersebut.

Ancaman Balasan Iran

Berbeda dengan operasi sebelumnya, kali ini Iran berjanji akan membalas sekeras mungkin jika diserang, dan pemimpin tertinggi mereka, Ayatollah Ali Khamenei, memperingatkan kemampuan untuk menenggelamkan kapal perang AS. Caine diketahui lebih vokal tentang kekhawatirannya di Pentagon dibanding saat briefing ke Trump, kemungkinan untuk tetap terlihat netral.

Juru bicara Gedung Putih, Anna Kelly, menegaskan Caine memberikan informasi tanpa bias kepada Panglima Tertinggi dan tidak menyampaikan pandangan pribadi.

Opsi Diplomasi dan Jalur Alternatif

Administrasi juga mengeksplorasi opsi untuk menghindari konflik militer, termasuk kemungkinan Iran mempertahankan kapasitas pengayaan nuklir terbatas untuk tujuan medis dan energi sipil.

Rubio diperkirakan akan mengunjungi Israel untuk memperbarui Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengenai hasil negosiasi pada 28 Februari.

Sementara itu, sebelum sesi negosiasi terakhir, posisi kedua pihak terlihat mengeras. Witkoff menyatakan di Fox News bahwa arahan Trump adalah agar Iran benar-benar tidak memiliki kemampuan pengayaan nuklir, namun Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan Tehran tidak siap melepaskannya.

Peningkatan Kekuatan Udara AS

AS telah menyiapkan konsentrasi kekuatan udara terbesar di Timur Tengah sejak invasi Irak 2003. Kapal induk USS Gerald Ford diperkirakan tiba dalam beberapa hari, menambah armada F-35, F-22, pembom, dan pesawat pengisi bahan bakar yang sudah dikerahkan di kawasan tersebut.

Peningkatan kekuatan ini memberi Trump opsi untuk melancarkan kampanye udara berkepanjangan dibanding serangan terbatas seperti operasi B-2 sebelumnya terhadap beberapa situs pengayaan nuklir di Fordow, Isfahan, dan Natanz.

Belum ada komentar