Keputusan Donald Trump yang tiba-tiba mengubah sikap terkait Iran kembali menegaskan pola kebijakan luar negeri yang kerap membuat dunia terkejut dan pasar global bergejolak.
Pada Senin (23/3), Presiden Amerika Serikat itu secara mendadak menunda ancaman serangan terhadap Iran, meskipun sebelumnya memberikan ultimatum keras hanya dua hari sebelumnya.
Pola Kebijakan yang Berubah-ubah
Sejak kembali berkuasa, Trump dikenal mengandalkan insting dalam mengambil keputusan. Dalam konflik Timur Tengah, ia beberapa kali mengeluarkan pernyataan yang saling bertentangan, termasuk soal tujuan dan durasi perang.
Ia bahkan sempat menyebut bahwa perang akan berakhir ketika ia “merasakannya sendiri”, mencerminkan pendekatan yang tidak konvensional dalam diplomasi internasional.
Analis hubungan internasional menilai Trump sebagai sosok yang piawai melakukan perubahan arah secara tiba-tiba, sehingga sulit memastikan apakah ada strategi jangka panjang atau sekadar improvisasi.
Dampak Besar ke Pasar Global
Perubahan sikap Trump langsung berdampak signifikan pada pasar global. Harga minyak dunia anjlok tajam, sementara indeks saham melonjak setelah ia mengumumkan adanya pembicaraan dengan Iran.
Minyak Brent Laut Utara turun lebih dari 14 persen, sementara West Texas Intermediate kehilangan hampir 10 persen. Di sisi lain, indeks Dow Jones melonjak hingga 700 poin.
Padahal, hanya beberapa hari sebelumnya Trump mengancam akan menyerang fasilitas energi Iran jika negara tersebut tidak membuka kembali Selat Hormuz, jalur penting bagi distribusi minyak dunia.
Namun, ia kemudian memberikan tenggat baru selama lima hari dengan alasan adanya pembicaraan yang disebutnya “produktif”, meski tidak memberikan detail jelas.
Fenomena “TACO” dan Kritik Analis
Pola perubahan sikap ini bahkan melahirkan istilah “TACO” atau Trump Always Chickens Out, yang merujuk pada kebiasaan Trump mengeluarkan ancaman besar lalu menariknya kembali.
Istilah ini awalnya digunakan dalam konteks strategi pasar saham, di mana investor memanfaatkan penurunan harga akibat pernyataan keras Trump untuk membeli aset sebelum ia mengubah kebijakan.
Contoh lain termasuk ancaman Trump terkait pengambilalihan Greenland serta tekanan terhadap Ketua Federal Reserve Jerome Powell terkait suku bunga.
Analis menilai bahwa dalam kasus Iran, perubahan sikap Trump kemungkinan dipengaruhi oleh gejolak pasar, tekanan dari negara-negara Teluk, serta dinamika internal politik di dalam gerakan MAGA miliknya.
Meski sering mengguncang pasar, banyak kebijakan tersebut dinilai tidak menghasilkan kesepakatan konkret, sehingga menimbulkan ketidakpastian bagi sekutu maupun lawan Amerika Serikat.

Belum ada komentar