Tarif Global Trump Digugat, India dan AS Tunda Perjanjian

Tarif Global Trump Digugat, India dan AS Tunda Perjanjian
Tarif Global Trump Digugat, India dan AS Tunda Perjanjian, Foto: Istimewa/BBC
infoluar,

Pemerintah India dan Amerika Serikat sepakat menunda pembahasan lanjutan kesepakatan perdagangan yang sedianya digelar pekan ini, menyusul putusan Mahkamah Agung AS yang membatalkan kebijakan tarif global pemerintahan Donald Trump.

Informasi ini dikutip dari BBC yang melaporkan bahwa kedua negara masih mempelajari implikasi hukum dan ekonomi dari putusan tersebut sebelum melanjutkan negosiasi resmi.

Delegasi India Tunda Kunjungan ke Washington

Sebelumnya, delegasi India dijadwalkan berangkat ke Amerika Serikat untuk merampungkan rincian kesepakatan dagang sementara yang diumumkan awal bulan ini.

Perjanjian tersebut menurunkan tarif impor AS terhadap produk India dari 50 persen menjadi 18 persen, meskipun sejumlah detail teknis masih belum sepenuhnya jelas.

Namun, situasi berubah setelah Mahkamah Agung AS memutuskan bahwa Presiden Donald Trump melampaui kewenangannya ketika menggunakan Undang-Undang Kekuatan Ekonomi Darurat Internasional 1977 untuk memberlakukan tarif global secara luas.

Ketidakpastian Baru dalam Perdagangan Global

Putusan tersebut menimbulkan ketidakpastian baru, terutama setelah Trump menyatakan akan tetap memberlakukan tarif global sebesar 15 persen terhadap seluruh barang impor ke AS.

Belum jelas bagaimana keputusan pengadilan dan rencana tarif baru tersebut akan memengaruhi kesepakatan dagang yang sudah atau sedang dinegosiasikan AS dengan negara lain, termasuk India.

Seorang pejabat Kementerian Perdagangan India mengatakan, “The two sides [India and the US] have decided to defer the talks until both sides are able to study the implications of recent developments,” dikutip dari BBC.

Dampak bagi Eksportir India

Perkembangan terbaru ini menambah tekanan bagi eksportir India yang dalam beberapa bulan terakhir harus menghadapi tarif 50 persen yang mulai berlaku sejak 27 Agustus. Tarif tersebut juga mencakup penalti terkait pembelian minyak Rusia oleh India.

Pada 2 Februari lalu, Trump mengumumkan bahwa kesepakatan dagang sementara telah dicapai setelah percakapan telepon dengan Perdana Menteri Narendra Modi. Kesepakatan itu sempat memberikan angin segar bagi pasar India.

Dalam kesepakatan tersebut, India berjanji menurunkan tarif standar untuk berbagai produk industri AS serta sejumlah komoditas pangan dan pertanian. Sebagai imbalannya, AS menurunkan tarif timbal balik terhadap sekitar 55 persen ekspor India dari 50 persen menjadi 18 persen.

Masih Banyak Detail Belum Jelas

Meski demikian, sejumlah pertanyaan muncul di dalam negeri India, termasuk apakah konsesi yang diberikan sebanding dengan manfaat yang diperoleh. Isu lain yang menjadi sorotan adalah komitmen pembelian barang AS hingga 500 miliar dolar dalam lima tahun serta kebijakan impor minyak Rusia.

Menteri Perdagangan India Piyush Goyal sebelumnya menegaskan bahwa pemerintah tidak memberikan konsesi untuk produk susu, produk rekayasa genetika, daging, maupun unggas. Ia juga menyatakan perlindungan bagi petani tetap menjadi prioritas.

Namun, para analis masih menunggu kejelasan detail akhir dari perjanjian tersebut.

Belum Ada Jadwal Baru

Sebelumnya, Goyal menyatakan kesepakatan dapat mulai berlaku pada April setelah isu-isu tersisa dibahas dalam kunjungan delegasi ke Washington.

Namun, perkembangan terbaru membuat jadwal tersebut tertunda. Reuters melaporkan, dikutip dari sumber yang tidak disebutkan namanya, bahwa belum ada tanggal baru yang ditetapkan untuk kunjungan delegasi India tersebut.

Situasi ini menunjukkan bahwa dinamika politik dan hukum di AS dapat berdampak langsung terhadap stabilitas perdagangan internasional, termasuk hubungan ekonomi strategis antara India dan Amerika Serikat.

Belum ada komentar