Kebocoran Data China 10 Petabyte, Hacker Klaim Bobol Superkomputer Nasional

Kebocoran Data China
Foto: CNN
infoluar,

Sebuah kelompok peretas mengklaim berhasil mencuri data dalam jumlah sangat besar dari National Supercomputing Center Tianjin, yang diduga menjadi salah satu kebocoran data terbesar dalam sejarah China.

Dataset yang diklaim mencapai lebih dari 10 petabyte tersebut disebut berisi berbagai informasi sensitif, termasuk dokumen pertahanan, riset militer, hingga skema teknologi persenjataan.

Aksi ini pertama kali mencuat setelah akun bernama FlamingChina membagikan sampel data melalui kanal Telegram anonim pada Februari 2026. Dikutip dari CNN, Mereka mengklaim data tersebut mencakup berbagai bidang, mulai dari teknik dirgantara, bioinformatika, hingga simulasi nuklir.

Sejumlah pakar keamanan siber yang telah meninjau sampel data menyebut kebocoran tersebut tampak kredibel, meskipun belum dapat diverifikasi secara independen. Beberapa dokumen bahkan dilaporkan memiliki label “rahasia” dalam bahasa Mandarin.

Menurut analis keamanan siber dari SentinelOne, Dakota Cary, jenis data yang bocor sesuai dengan karakteristik pusat superkomputer yang menangani berbagai komputasi skala besar dari banyak instansi.

Sementara itu, peneliti keamanan siber Marc Hofer menyebut skala data tersebut sangat menarik bagi badan intelijen negara lain karena potensi nilai strategisnya.

Berdasarkan klaim peretas, akses ke sistem diperoleh melalui celah pada domain VPN yang telah disusupi. Setelah itu, mereka menggunakan jaringan botnet untuk mengekstraksi data secara bertahap selama beberapa bulan tanpa terdeteksi.

Metode ini dinilai efektif karena distribusi pengambilan data dilakukan ke berbagai server, sehingga tidak memicu alarm keamanan akibat transfer data dalam jumlah besar sekaligus.

Meski demikian, para ahli menilai teknik yang digunakan bukan sesuatu yang sangat canggih, melainkan lebih pada pemanfaatan kelemahan arsitektur sistem keamanan.

Jika kebocoran ini benar, insiden tersebut dapat menunjukkan adanya celah serius dalam infrastruktur teknologi China, terutama di tengah ambisi negara tersebut menjadi pemimpin global dalam bidang teknologi dan kecerdasan buatan.

Kasus ini juga mengingatkan pada insiden sebelumnya, ketika database berisi data pribadi hingga satu miliar warga China sempat terekspos secara publik akibat sistem yang tidak diamankan dengan baik.

Hingga saat ini, pihak berwenang China belum memberikan konfirmasi resmi terkait dugaan kebocoran tersebut. Namun, peristiwa ini kembali menyoroti pentingnya penguatan sistem keamanan siber di era digital yang semakin kompleks.

Belum ada komentar