Presiden Indonesia Prabowo Subianto membantah kritik terkait kunjungan luar negerinya, menegaskan bahwa perjalanan tersebut bukan sekadar sightseeing atau acara seremonial, melainkan bagian dari strategi diplomasi ekonomi untuk melindungi lapangan kerja dan kepentingan nasional.
Dalam video yang diunggah di kanal resmi YouTube bertajuk “Prabowo Menjawab 2” pada Minggu (22/3), Presiden menyatakan setiap perjalanan luar negeri memiliki tujuan khusus yang terkait langsung dengan kesejahteraan jutaan pekerja Indonesia.
Diplomasi Ekonomi sebagai Fokus
“Orang berpikir saya suka berpergian, tapi saya bepergian untuk mengurus rakyat saya juga,” ujar Prabowo, dikutip oleh Detik. Ia menekankan bahwa kunjungannya bertujuan membuka akses pasar dan memperkuat posisi tawar Indonesia dalam kerja sama industri dan perdagangan, yang berdampak langsung pada lapangan kerja.
Sejak menjabat, Prabowo yang berusia 74 tahun ini telah menghadiri sedikitnya sembilan summit internasional dan melakukan lebih dari 40 kunjungan resmi ke lebih dari 20 negara, termasuk kekuatan besar dan mitra strategis kecil. Beberapa negara, seperti Malaysia, dikunjunginya lebih dari lima kali.
Prabowo menegaskan bahwa kehadiran kepala negara sering menjadi faktor penentu dalam negosiasi ekonomi, terutama terkait perdagangan dan investasi. Negosiasi sering menemui kebuntuan di tingkat teknis, sehingga keputusan strategis harus dilakukan melalui komunikasi langsung antar-pemimpin.
Contohnya, keberhasilan Indonesia membuka akses pasar ke Uni Eropa dan Kanada memungkinkan ekspor kunci seperti tekstil dan alas kaki menikmati tarif nol setelah sebelumnya menghadapi hambatan perdagangan. Tanpa intervensi langsung di tingkat kepala negara, sektor manufaktur domestik Indonesia bisa menghadapi tekanan serius.
Posisi Strategis Indonesia di Kancah Global
Prabowo menekankan bahwa kunjungan luar negeri yang sering mencerminkan lanskap global yang berubah, di mana kekuatan ekonomi menjadi faktor utama dalam menentukan posisi suatu negara. “Jika ekonomi kita kuat, kita tidak bisa didorong sembarangan,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya memperkuat hubungan dengan organisasi internasional seperti ASEAN, G20, dan OIC untuk menjaga stabilitas dan melindungi kepentingan nasional. Kehadiran dalam undangan internasional juga merupakan norma diplomatik yang harus dipatuhi.
Para pengamat sebelumnya menyebut bahwa intensitas diplomasi Prabowo menunjukkan posisi Indonesia sebagai kekuatan menengah yang siap berinteraksi langsung dengan kekuatan besar. Dalam dunia yang semakin terfragmentasi, Indonesia berpeluang menjadi penengah diplomatik, mediator, dan pembuat agenda global.

Belum ada komentar