SINGAPURA – Jumlah kasus penipuan atau scam di Singapura sepanjang 2025 tercatat menurun signifikan dibanding tahun sebelumnya. Namun, di balik penurunan total kasus tersebut, otoritas setempat justru mencatat lonjakan tajam pada modus penipuan yang mengatasnamakan pejabat pemerintah.
Dikutip dari Channel News Asia, Kepolisian Singapura atau Singapore Police Force (SPF) dalam laporan tahunan statistik scam dan kejahatan siber yang dirilis Rabu (25/2) menyebutkan terdapat 37.308 kasus penipuan pada 2025. Angka ini turun 27,6 persen dibandingkan 51.501 kasus pada 2024.
Ini menjadi kali pertama SPF mencatat penurunan total kasus scam sejak statistik tersebut dilaporkan secara terpisah pada 2023.
Kasus Scam Masih Dominasi Kejahatan Siber
Meski menurun, kasus penipuan tetap mendominasi kejahatan siber di Singapura. Sepanjang 2025, scam menyumbang 88,9 persen dari total 41.974 kasus gabungan scam dan kejahatan siber, yang juga turun 24,8 persen dibanding tahun sebelumnya.
Dari sisi kerugian, total dana yang hilang akibat scam ikut menyusut 17,9 persen, dari sekitar S$1,124 miliar pada 2024 menjadi sekitar S$913,1 juta pada 2025.
Namun, kerugian dalam bentuk mata uang kripto masih tergolong besar. Polisi menyebut sekitar 20 persen dari total kerugian—atau setara S$182,2 juta—berkaitan dengan transaksi kripto.
Modus Pejabat Pemerintah Naik Tajam
Di tengah penurunan sejumlah jenis penipuan seperti e-commerce, lowongan kerja, dan “fake friend call”, kasus penipuan yang mengatasnamakan pejabat pemerintah justru melonjak drastis.
Pada 2025, terdapat 3.363 kasus dengan modus ini, meningkat 123,6 persen dibanding 1.504 kasus pada 2024. Dari sisi kerugian, nilainya naik 60,5 persen menjadi sekitar S$242,9 juta.
Polisi mengamati pola baru dalam metode transfer dana. Korban diminta memindahkan uang dari rekening bank ke akun penyedia layanan pembayaran seperti YouTrip melalui PayNow yang dikendalikan pelaku. Ada pula modus di mana korban diarahkan membuka akun kripto, menyetor dana, membeli aset digital, lalu mentransfernya ke dompet milik pelaku.
E-Commerce Masih Tertinggi, Tapi Turun Signifikan
Penipuan e-commerce tetap menjadi jenis scam terbanyak, meski jumlahnya turun 42,5 persen dari 11.665 kasus pada 2024 menjadi 6.703 kasus pada 2025.
Kartu koleksi Pokemon tercatat sebagai barang yang paling sering digunakan dalam modus ini, mencakup 13,6 persen dari total kasus e-commerce—melonjak tajam dari hanya 1 persen pada 2024.
Korban umumnya menemukan penawaran kartu tersebut di Carousell atau Facebook Marketplace. Setelah menyatakan minat atau melakukan pre-order, korban diminta membayar melalui PayNow atau transfer bank. Penipuan baru disadari ketika barang tak kunjung diterima atau penjual tidak lagi dapat dihubungi.
Kerugian Terbesar dari Scam Investasi
Dari sisi nilai kerugian, scam investasi masih menempati posisi teratas dengan total sekitar S$336,2 juta pada 2025, naik 4,8 persen dari tahun sebelumnya.
Sementara itu, kerugian akibat jenis penipuan lain seperti phishing, e-commerce, dan business email compromise mengalami penurunan. Bahkan, kasus business email compromise mencatat penurunan kerugian paling tajam hingga 60,1 persen.
Profil Korban dan Kelompok Usia Rentan
Data SPF menunjukkan kelompok usia 30 hingga 49 tahun menjadi korban terbanyak, yakni 36,1 persen dari total korban. Lebih dari 20 persen di antaranya terjerat scam e-commerce, selain phishing dan penipuan kerja.
Kelompok lansia berusia 65 tahun ke atas memang hanya menyumbang 14,8 persen dari total korban, tetapi rata-rata kerugian per orang mencapai lebih dari S$37.000—tertinggi dibanding kelompok usia lain. Sekitar 22,5 persen lansia menjadi korban scam investasi, 21 persen penipuan pejabat pemerintah, dan 17,2 persen phishing.
Secara keseluruhan, 85,2 persen korban scam pada 2025 berasal dari kelompok usia di bawah 65 tahun.
Upaya Pemerintah dan Pengetatan Regulasi
SPF menilai penurunan jumlah kasus dan kerugian tidak lepas dari strategi anti-scam serta edukasi publik yang membuat pelaku lebih sulit menjalankan aksinya. Sepanjang 2025, Anti-Scam Command (ASCom) berhasil memulihkan sekitar S$140,5 juta dana korban dan membantu mencegah potensi kerugian hingga S$348 juta.
Meski demikian, 81,8 persen kasus merupakan transfer mandiri, di mana korban secara sukarela mentransfer uang setelah dimanipulasi melalui rekayasa sosial.
Lebih dari 7.000 kurir uang (money mule) dan pelaku yang diduga terlibat telah diselidiki pada 2025, dengan lebih dari 940 orang sudah didakwa.
Menteri Negara Urusan Dalam Negeri Goh Pei Ming menegaskan bahwa perjuangan melawan scam belum selesai. Ia menyebut pemerintah akan menggandakan upaya serta memperkuat kerja sama internasional dan domestik untuk memutus siklus kejahatan penipuan.
Pemerintah juga memperketat regulasi, termasuk membatasi registrasi maksimal 10 kartu SIM pascabayar per individu untuk mencegah penyalahgunaan. Sepanjang 2025, lebih dari 105.000 nomor ponsel terkait scam telah diblokir oleh otoritas dan operator telekomunikasi.

Belum ada komentar