Empat tahun sejak invasi Rusia ke Ukraina dimulai, upaya mengakhiri perang masih belum menemukan titik terang. Meski negosiasi intensif telah berlangsung selama setahun terakhir, kesepakatan damai antara Kyiv dan Moskow tetap sulit tercapai.
Laporan ini dirangkum dari dan dikutip dari ABC News yang memaparkan dinamika terbaru hubungan antara Volodymyr Zelenskyy, Donald Trump, serta Vladimir Putin dalam proses perundingan yang berjalan alot.
Setahun Negosiasi, Belum Ada Titik Temu
Hampir setahun lalu, Zelenskyy bertemu Trump di Gedung Putih dalam suasana yang disebut penuh ketegangan. Sejak itu, pemerintahan Trump mendorong kedua belah pihak untuk membuat konsesi demi mengakhiri konflik yang telah berlangsung sejak Februari 2022.
Namun hingga kini, baik Rusia maupun Ukraina dinilai belum menunjukkan kompromi yang cukup untuk menghasilkan kesepakatan final. Pemerintah Amerika Serikat bahkan disebut lebih banyak menekan Kyiv dibanding Moskow dalam proses negosiasi tersebut.
Menurut Arne Westad, profesor sejarah internasional dari Yale University, strategi Rusia diduga memang bertumpu pada taktik menunggu.
“I think that is exactly Putin’s strategy — to hope that both Ukraine and the West will tire of the war and that he can get a ceasefire along the lines he desires,” ujarnya kepada ABC News.
Eropa Ambil Peran Lebih Besar
Seiring berjalannya waktu, beban dukungan terhadap Perang Ukraina semakin banyak dipikul negara-negara Eropa. Uni Eropa kini menjadi penyokong ekonomi dan militer terbesar bagi Kyiv, dengan Jerman sebagai penyumbang persenjataan utama.
Amerika Serikat tidak lagi memberikan bantuan senjata secara cuma-cuma, melainkan menjualnya melalui skema NATO. Sementara itu, koalisi negara-negara Eropa membentuk rencana pasukan penjaga perdamaian pascaperang, meski Washington enggan menempatkan pasukan darat secara langsung.
Michael Kennedy, profesor hubungan internasional dari Brown University, menilai sikap Eropa cukup solid di tengah ketidakpastian dukungan Washington.
“I am frankly surprised that they have met the challenge Trump brings to this struggle by declaring that they will stand by Ukraine even if Trump will not,” katanya.
Korban dan Dampak Ekonomi
Perang yang telah berlangsung empat tahun ini menelan korban besar di kedua pihak. Presiden Zelenskyy bulan lalu menyebut sekitar 55.000 tentara Ukraina diketahui tewas, sementara banyak lainnya dinyatakan hilang.
Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk HAM mencatat lebih dari 15.000 warga sipil tewas dan puluhan ribu lainnya terluka sejak invasi skala penuh dimulai.
Di sisi ekonomi, Rusia dan Ukraina sama-sama menghadapi tekanan berat. Presiden Putin mengklaim ekonomi Rusia tumbuh sekitar 1 persen tahun lalu, meski sejumlah analis menilai tekanan akibat sanksi Barat terus meningkat.
Peter Rutland, profesor dari Wesleyan University, menyebut pendapatan minyak masih menjadi penopang utama ekonomi Rusia, walau harga minyak rendah dan pengawasan terhadap armada bayangan pengangkut minyak Rusia semakin diperketat.
“The consensus is that the economy is far from ‘collapsing’ but the strains are increasing,” ujarnya.
Masa Depan Perang dan Warisan Politik Putin
Sejumlah pengamat menilai Presiden Putin belum menunjukkan urgensi kuat untuk segera menyelesaikan konflik. Di sisi lain, Ukraina kini sangat bergantung pada bantuan finansial luar negeri, dengan utang nasional meningkat tajam dalam beberapa tahun terakhir.
Menurut analis, hasil akhir perang ini akan sangat menentukan warisan politik Putin, yang kini berusia 73 tahun. Konflik ini disebut sebagai perang paling destruktif di Eropa sejak Perang Dunia II.
Dengan negosiasi yang masih berlangsung tanpa kepastian, dunia internasional terus menunggu apakah tekanan ekonomi dan militer akan memaksa salah satu pihak untuk membuat konsesi nyata demi tercapainya perdamaian.

Belum ada komentar